free web page counters

Pupuk/Nutrisi Apakah di Butuhkan untuk Pertanian Aquaponik?

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Kamu mungkin sudah tahu, kalau sumber nutrisi aquaponik berasal dari pakan ikan dan input air. Sebagian besar pakan yang dicerna oleh ikan biasanya digunakan untuk pertumbuhan dan metabolisme. Sedangkan sisanya dikeluarkan sebagai feses dalam bentuk larut, maupun padan. Namun tentu saja ada sisa pakan yang tidak dimakan, dan akhirnya membusuk di dalam kolam.

Limbah tersebutlah yang nantinya akan menjadi sumber nutrisi utama bagi tanaman. Meskipun kedengaran mudah, namun dalam implementasinya ternyata cukup rumit. Kamu harus tahu faktor yang bisa meningkatkan produksi nitrogen, dan fosfor yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan begitu, maka ikan, dan tanaman bisa tumbuh berdampingan, dan memberikan hasil produk memuaskan.

Sumber Nutrisi Aquaponik

Idealnya, semua pakan yang diberikan harus dikonsumsi oleh ikan. Namun, sebagian kecil biasanya sering dibiarkan membusuk dalam kolam, dan berkontribusi pada beban nutrisi air, sehingga mengurangi oksigen terlarut, serta melepaskan karbon dioksida dan amonia. Meskipun begitu, kualitas limbah sisa pakan tergantung pada komposisi makanan ikan itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa retensi nutrisi dalam biomassa ikan juga tergantung pada jenis ikan, populasi ikan, ukuran ikan, dan suhu sistem. Pada suhu tinggi misalnya, metabolisme ikan akan meningkat sehingga menghasilkan limbah yang mengandung lebih banyak nutrisi. Dalam hal ini, daya cerna ikan terhadap makanan juga bisa menjadi faktor bagus atau tidaknya nutrisi.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya kekurangan unsur hara dengan memanfaatkan bahan organik :

1. Limbah Buah

Cara ini cukup mudah diterapkan, kamu tinggal mencacah kulit buah yang sudah tidak digunakan. Setelah itu rendam dalam larutan probiotik supaya proses penguraian lebih cepat. Kemudian masukkan dalam kaos kaki bekas, dan langsung saja rendam di kolam ikan.

2. Usus Belut

Untuk meningkatkan produksi fosfor, kamu bisa memanfaatkan kulit pisang yang memang sudah matang, buah nanas busuk, batang pisang yang telah dicacah sebelumnya, dan kotoran burung puyuh. Sedangkan untuk sumber kalium, maka bisa menambahkan serabut kelapa suwir, tepung beras, dan usus belut sebagai sumber dari bakteri probiotik.

Campur semua bahan di atas dalam sebuah wadah, lalu tambahkan sekitar 5 liter air kelapa, dan 500 gram larutan gula merah yang dilarutkan pada 2 liter air panas. Setelah itu, semua bahan difermentasi selama 2 minggu dalam wadah tertutup. Sementara jumlah air yang akan dialirkan ke tanaman harus disesuaikan dengan jenis tumbuhan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Nutrisi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Nutrisi

  • Intensitas cahaya
  • Suhu zona akar
  • Suhu udara
  • Ketersediaan unsur hara
  • Laju pertumbuhan
  • Peran Kunci pH dalam Aquaponik

    Tidak jauh berbeda dengan sistem hidroponik, dalam aquaponik pH juga memiliki peran sangat penting untuk meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi. Pada aquaponik sebenarnya tidak ada istilah kekurangan nutrisi total, hanya saja jika kisaran pH kurang dari jumlah yang dibutuhkan, maka tanaman akan mengalami kesulitan mengambil larutan nutrisi dari sistem.

    Nilai pH bagus di aquaponik ada adalah 6.0 – 7.0. Pada angka tersebut, tanaman mempunyai kesempatan sangat baik menyerap semua nutrisi yang dibutuhkan. Meskipun begitu, jangan lupa kalau kebutuhan PH pada setiap komponen aquaponik berbeda. Biasanya ikan dan bakteri pengurai lebih suka pH di angka 7.0 – 8.0.

    Oleh sebab itu, harus ada kompromi nilai pH untuk semua komponen yang ada dalam siklus budidaya. Idealnya, nilai pH yang harus dicapai dan dipertahankan adalah 6,8 – 7.0. Dengan begitu, maka sistem aquaponik bisa berjalan secara baik, dan berkesinambungan.

    Tinggi atau rendahnya pH dalam aquaponik umumnya disebabkan beberapa faktor di bawah ini :

    • Air mengandung pH tinggi
    • Sistem aquaponik baru diterapkan, dimana koloni bakteri belum terbentuk sempurna sehingga amonia tinggi
    • Menggunakan media tanam yang tidak mempunyai inert (pH netral), contohnya batu kerikil

    Kamu harus melakukan penyesuaian pH secara perlahan untuk menghindari fluktuasi. Di samping itu, apabila proses perubahan pH tidak terkendali, maka akan menekan ikan. Target untuk merubah nilai pH yang ideal adalah mulai 0,2 per hari. Lakukan terus sampai mendapatkan nilai yang sempurna, yakni 6.8 – 7.0

    Kalau kamu belum berpengalaman mengenai sistem aquaponik, dan tidak tahu bagaimana cara menyesuaikan pH, maka bisa mengikuti panduan di bawah ini :

    • Apabila nilai pH dibawah 6.0, maka kamu bisa memberikan CaOH atau kalsium  hidroksida, maupun KOH atau kalium hidroksida. Kedua unsur tersebut mempunyai manfaat bagus untuk tanaman. Untuk meningkatkan pH dengan alami, kamu bisa memanfaatkan siput, telur, atau cangkang kerang yang kamu hancurkan. Jangan lupa untuk merebusnya terlebih dahulu ya!
    • Apabila pH di atas 7.0, gunakan cairan pH down untuk menurunkannya. Kamu bisa membelinya di toko hidroponik, atau perikanan. Selain itu, bisa juga menggunakan cairan yang memiliki sifat asam, contohnya H2SO4 atau asam sulfat. Jangan pernah menggunakan asam sitrat, karena mempunyai sifat anti bakteri.

    Kenapa Sistem Aquaponik Rawan dengan Kehilangan Nutrisi?

    Mencegah kekurangan nutrisi aquaponik adalah tantangan konstan yang dihadapi para praktisi yang menerapkan sistem ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan nutrisi hilang, diantaranya adalah :

    • Pengendapan lumpur dalam kolam
    • Penumpukan kotoran dan pakan yang tidak dimakan ikan
    • Air berkurang
    • Denitrifikasi
    • Penguapan amonia

    Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Rafiee dan Saad (2005), disebutkan bahwa ada 24% besi, 47% seng, 86% mangan, 16% kalsium, 22% tembaga, 6% nitrogen, 16% kalsium, 6% kalium, 89% magnesium, dan 18% fosfor yang terkandung dalam ikan terdapat di lumpur. Lumpur mampu menampung hingga 40% nutrisi dari pangan.

    Selanjutnya, denitrifikasi yang bisa menyebabkan hilangnya 25-60% nitrogen. Denitrifikasi juga berhubungan dengan kondisi anoksik, dan karbon rendah yang mengubah nitrat menjadi nitrit, oksida serat, nitrous oksida, dan gas nitrogen dengan aliran ke atmosfer. Denitrifikasi disebabkan oleh bakteri, seperti Aerobacter, Achromobacter, Acinetobacter, Brevibacterium, Bacillus, dan sebagainya.

    Cara Meningkatkan Siklus Nutrisi

    Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman di sistem aquaponik, maka siklus hara harus ditingkatkan. Sebenarnya ada banyak cara yang bisa diterapkan supaya nutrisi tidak hilang. Berikut adalah teknik yang bisa dijadikan referensi :

    • Remineralisasi lumpur, untuk menghindari kehilangan nutrisi yang terperangkap di lumpur. Tujuannya adalah untuk mengekstraksi nutrisi yang ditangkap dalam bentuk padat lumpur, dan mengembalikannya ke sistem yang dapat diserap tanaman.
    • Meningkatkan daya serap tanaman melalui konsentrasi larutan aquaponik (membuang sebagian kecil air untuk menjaga jumlah unsur hara yang sama, tapi dalam volume air lebih rendah), untuk mengurangi hilangnya unsur hara. Hal ini bisa dicapai melalui teknik desalinasi.
    • Menggunakan sistem decoupled / multi-loop sehingga kondisi kehidupan, dan pertumbuhan ikan, tumbuhan, dan mikroorganisme bisa dioptimalkan.

    Dalam sistem pertanian, termasuk aquaponik, menjaga siklus stabilitas nutrisi adalah hal penting yang harus menjadi perhatian para pelaku budidaya. Terlebih lagi, nutrisi aquaponik ini sangat bergantung pada komponen lain dalam sistem, yakni ikan, dan mikroorganisme. Salah satu cara terbaik untuk mencegah terjadinya kekurangan nutrisi adalah memberikan pakan ikan berkualitas.