Belakangan ini, hidroponik semakin populer di kalangan masyarakat baik untuk sekadar hobi semata maupun peluang bisnis yang menjanjikan. Hidroponik mulai diminati karena terbilang mudah dan bisa dilakukan di lahan sempit sekalipun. Meski terbilang mudah, sering kali dijumpai pula kesalahan hidroponik bagi pemula yang membuat hasil budidaya menjadi kurang maksimal.
Karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya, hidroponik bisa dikatakan mudah namun juga sulit terutama dalam perawatannya. Untuk mengetahui secara lebih jelas apa aja kesalahan yang sering dibuat oleh para pemula dalam memulai budidaya dengan sistem hidroponik, simak penjelasannya berikut ini.
9 Kesalahan Hidroponik Bagi Pemula
1. Menyemai Benih Tanaman Terlalu Banyak
Kesalahan yang sering dilakukan oleh pemula adalah melakukan penyemaian benih terlalu banyak dan tidak sesuai dengan lubang tanam yang tersedia. Sebagai contoh misalnya kamu akan menerapkan teknik hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dengan jumlah lubang tanam yaitu 80 titik. Jika kamu ingin menanamnya sekaligus, maka usahakan untuk tidak menyemai terlalu banyak.
Jika lubang tanam yang tersedia adalah 80 titik, kamu bisa menyemai benih sejumlah 100 benih. Benih sisanya bisa dijadikan sebagai cadangan apabila benih yang lainnya gagal tumbuh. Banyak pemula yang melakukan penyemaian secara berlebihan, sehingga ketika waktu pindah tanam tiba, ada banyak benih yang tidak kebagian tempat dan hanya menganggur saja di tempat semai.
2. Keinginan Mencoba Semua Benih Tanaman
Keinginan mencoba semua benih tanaman ini merupakan kesalahan yang sering dialami oleh para pemula. Karena terlalu bersemangat, hampir semua jenis tanaman dicoba mulai dari cabai, tomat, bawang, terong, dan lain sebagainya. Bagi kamu yang masih pemula, kamu bisa mencoba menanam tanaman hidroponik yang perawatannya mudah dan cepat tumbuh seperti selada, bayam, atau kangkung.
Ketiga tanaman tersebut terbilang mudah tumbuh dan risiko terkena hama yang kecil, sehingga kemungkinan keberhasilan panennya juga lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya. Apabila kamu sudah berhasil membudidayakan ketiga jenis tanaman ini, kamu bisa mulai mencoba menanam seledri, sawi, pakcoy, atau tanaman sayuran buah seperti cabai dan tomat.
Urutan penanaman ini terbilang penting untuk mengurangi risiko kegagalan. Apabila kamu berhasil melakukan tahapan penanaman tersebut dan hasilnya memuaskan, kamu juga akan lebih bersemangat untuk melakukan budidaya hidroponik. Bahkan tidak hanya sekadar hobi saja, namun budidaya tanaman hidroponik juga bisa dijadikan sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
3. Pengaturan pH air yang Tidak Sesuai
Ketika kamu membaca artikel atau referensi tentang hidroponik, kamu tentu tidak asing lagi dengan istilah air nutrisi. Karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, air menjadi salah satu komponen penting bagi tanaman untuk memperoleh nutrisi. Pengaturan pH air yang kurang tepat menjadi salah satu faktor kegagalan budidaya hidroponik.
Sebagai media tanam hidroponik, pH air yang ideal yaitu kisaran 5,5 sampai dengan 6,5. Bagi kamu yang masih pemula sebaiknya jangan terlalu fokus pada bagian pH air, namun fokuslah terlebih dahulu pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Terlalu sibuk menaikkan atau menurunkan pH air justru akan membuat tanaman mati.
4. Tidak Fokus pada Satu Sistem Hidroponik
Kesalahan hidroponik bagi pemula yaitu mencoba semua sistem hidroponik, sehingga tidak bisa fokus pada satu sistem. Sebagai contoh misalnya sistem hidroponik DFT yang memiliki banyak variasi, mulai dari instalasi yang menggunakan rangka bertingkat, rangka ulir, hingga rangka meja. Tidak sedikit pemula yang ingin mencoba semua sistem dan variasinya ini.
Dengan banyaknya pilihan sistem hidroponik, kamu bisa mencari referensinya terlebih dahulu dan memilih salah satu sistem yang kamu anggap cocok dan sesuai dengan budget yang dimiliki. Semakin kamu ingin coba-coba, maka biaya instalasi sistem hidroponik yang harus kamu keluarkan juga akan semakin banyak.
5. Mengabaikan Jarak Lubang Tanam
Jarak antar lubang tanam juga sangat mempengaruhi hasil tanaman hidroponik yang kamu budidayakan. Apabila jarak antar lubang tanam terlalu dekat, maka pertumbuhan tanaman akan terganggu dan hasilnya kurang maksimal karena saling berdesakan. Untuk menentukan jarak antar lubang tanam, kamu bisa menyesuaikannya dengan jenis tanaman yang akan kamu tanam.
Misalnya, jarak antar lubang untuk tanaman selada idealnya yaitu sekitar 20-25 cm. Apabila jaraknya terlalu dekat, selada yang dihasilkan juga akan kurang maksimal. Lain halnya ketika kamu ingin menanam bayam atau kangkung yang tidak memakan tempat terlalu banyak. Untuk lubang tanam bayam atau kangkung, kamu bisa memberikan jarak sekitar 15 cm.
6. Tidak Punya Jadwal Tanam
Tidak memiliki jadwal tanam yang tepat merupakan kesalahan yang banyak dialami oleh pemula budidaya hidroponik. Padahal jadwal tanam akan berpengaruh pada jadwal panen. Sebagai contoh misalnya kamu memiliki 100 lubang tanam dan berencana melakukan sekali pemanenan dengan jumlah 100 lubang.
Ketika waktu panen sudah hampir dekat, kamu lupa tidak menyemai benih tanaman lagi. Kamu baru melakukan penyemaian setelah masa panen, sehingga instalasi hidroponik yang kamu gunakan akan menganggur selama masa penyemaian, Hal ini tentunya tidak akan efektif dan banyak waktu yang terbuang sia-sia.
7. Tidak Melakukan Penanggulangan Hama
Anggapan bahwa tanaman hidroponik lebih sehat karena bebas hama dan pestisida menjadi latar belakang banyaknya pemula yang melakukan kesalahan ini. Anggapan ini membuat mereka mengabaikan pentingnya menanggulangi hama tanaman, terutama pada tanaman sawi-sawian, cabai, dan tomat yang rawan terserang hama.
Jika kamu tidak ingin menggunakan pestisida atau obat-obat kimia, kamu bisa mengantisipasi serangan hama dengan menggunakan Green House.
8. Kurang Mendapat Sinar Matahari
Kesalahan yang sering terjadi pada pemula yaitu meletakkan benih semaian di tempat yang kurang mendapat pancaran sinar matahari. Banyaknya referensi atau tutorial yang menyatakan bahwa penyemaian bibit dilakukan di tempat gelap dan ditutup dengan plastik hitam dalam waktu 1 sampai 2 hari saja.
Apabila penyemaian di tempat yang kurang cahaya dilakukan berhari-hari, yang terjadi justru benih tanaman akan tumbuh dalam keadaan kurus, tinggi, dan kemungkinan untuk layu dan mati lebih besar. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mengeluarkan benih semaian dalam 1-2 hari, kemudian letakkan di tempat yang mendapatkan sinar matahari yang cukup.
9. Lupa Menyiram Tanaman
Kesalahan yang banyak dilakukan oleh pemula dalam budidaya hidroponik adalah lupa menyiram tanaman. Kesalahan ini sering terjadi Karena adanya anggapan bahwa penyiraman hanya cukup dilakukan satu kali saja ketika pertama kali menanam. Padahal dalam praktiknya, tanaman yang dikembangkan dengan hidroponik harus selalu dijaga kelembaban media tanamnya.
Meski begitu, tidak semua tanaman hidroponik harus disiram. Untuk teknik hidroponik kultur air yang menggunakan 100% air sebagai media tanamnya seperti teknik DFT atau NFT mungkin tidak perlu dilakukan penyiraman.
Namun untuk teknik hidroponik teknik agregat yang menggunakan rockwool, cocopeat, kerikil, dan lain sebagainya sebagai media tanamnya, maka penyiraman tetap harus dilakukan agar tetap lembab. Media tanam yang terlalu kering akan membuat tanaman menjadi layu, bahkan mati.
Bagi kamu yang tertarik dengan budidaya hidroponik, 9 kesalahan hidroponik bagi pemula di atas harus kamu hindari. Dengan memahami perawatan tanaman dengan baik dan benar, tanaman hidroponik yang kamu budidayakan akan tumbuh dengan subur, segar, dan memperoleh hasil panen yang maksimal.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·