
Tantangan terbesar seorang penulis buku tidak hanya mengenai pemasaran atau manajemen waktu. Namun, juga terkait dengan bagaimana cara menentukan ide tulisan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ratusan halaman.
Memilih ide tulisan bukan sekadar mencari sesuatu yang baru atau unik, tapi tentang mencari topik yang mampu membangkitkan semangat dalam berkarya. Tanpa landasan ide yang kuat, teknik menulis sehebat apa pun akan sulit menghasilkan karya yang bermakna.
Melalui artikel ini, kita akan mencari tahu lebih dalam apa saja strategi atau cara yang harus penulis terapkan dalam menentukan ide tulisan. Harapannya, setelah membaca keseluruhan opini ini, teman-teman merasa kebingungan atau terjebak dalam kebuntuan ide saat ingin memulai sebuah karya. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, mari kita simak tips yang pertama.

1. Sesuai dengan Keterampilan
Cara memilih ide tulisan yang pertama yaitu dengan melihat apa yang sudah kita kuasai. Kita bisa memulai dari keterampilan, kegemaran, atau aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Ketika kita menentukan topik sesuai dengan keahlian, maka menulis naskah tidak akan terasa seperti beban, namun mengalir layaknya bercerita kepada teman lama.
Jangan terlalu memaksakan diri menulis suatu topik yang asing atau belum kita pahami seutuhnya. Selain dapat menyebabkan kebingungan dan kekeliruan, hal ini juga membuat proses kreatif menjadi macet di tengah jalan.
Agar proses menulis tetap lancar dan terkendali, kita bisa memilih zona aman dengan membahas topik yang sesuai dengan minat serta kemampuan kita. Dengan demikian, kita tidak perlu membuang-buang waktu mempelajari isu baru, sehingga bisa langsung fokus pada cara penyampain dan unsur-unsur lainnya.

Pada intinya, semakin dalam pemahaman kita terhadap sebuah topik, semakin tajam pula intuisi kita dalam menemukan sudut pandang yang menarik. Menulis sesuai keterampilan bukan berarti membatasi diri, melainkan cara cerdik agar karya yang kita kerjakan bisa selesai dengan kualitas yang baik tanpa harus merasa tertekan di tengah prosesnya.
2. Ide yang Memiliki Daya Pikat
Setelah memikirkan beberapa ide yang sesuai dengan keahlian, langkah selanjutnya yaitu memilih ide yang memiliki daya tarik paling kuat. Sebuah tulisan yang bagus biasanya berawal dari gagasan yang mampu memancing rasa ingin tahu. Jika suatu ide sudah terlihat menawan, otomatis tulisan kita akan lebih menarik perhatian dan mampu memanggil pembaca untuk menyelaminya hingga akhir.
Kita juga perlu berhati-hati dengan topik yang terasa motonon atau membosankan. Apabila kita menulis buku yang memuat tema yang sudah banyak di pasaran, kemungkinan besar karya yang kita buat akan sepi peminat. Oleh karena itu, peka terhadap tren atau isu-isu yang sedang banyak orang perbincangkan merupakan sebuah keharusan.
Ide yang menarik atau memiliki daya pikat tidak harus selalu berbeda atau benar-benar baru. Kita masih diperbolehkan mengambil inspirasi yang sudah banyak penulis lain bahas. Dengan catatan, kita harus bisa mengemasnya dengan gaya bahasa dan sudut pandang pribadi.
Dengan menjadi diri sendiri dalam menulis, karya yang kita hasilkan akan memiliki identitas unik yang membedakannya dari yang lain. Meskipun memuat topik yang umum, tulisan kita bisa menjadi istimewa dengan sentuhan dan gaya kita sendiri.
3. Bahas Isu yang Sedang Populer

Cara ketiga untuk menemukan ide tulisan adalah dengan memperhatikan isu atau rumor yang sedang populer di kalangan masyarakat. Hal-hal yang saat ini viral biasanya menjadi pusat perhatian dan menarik minat banyak orang. Dengan membahas topik yang sedang digandrungi, karya kita akan memiliki peluang lebih besar untuk dilirik oleh para penggiat literasi.
Cara ini dinilai sangat efektif karena pembaca buku cenderung mencari informasi terbaru perihal apa yang sedang terjadi. Dengan memanfaatkan isu terkini, karya tulis yang kita ciptakan dapat lebih cepat dikenal dan dibaca oleh banyak orang.
Oleh sebab itu, jangan pernah ragu untuk menulis suatu topik hangat yang memang kita kuasai dengan baik. Selama mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai isu tersebut, kita bisa menghasilkan tulisan yang tidak hanya menarik, tapi juga berkualitas unggul.
4. Memilih Ide dengan Referensi yang Melimpah
Bagi penulis nonfiksi maupun karya ilmiah, ketersediaan referensi atau rujukan merupakan aspek basal dalam menentukan ide tulisan. Di ranah penulisan formal, setiap pernyataan wajib didukung oleh sumber yang jelas dan dicantumkan ke dalam daftar pustaka. Hal ini bukan sekadar formalitas, melainkan cara untuk membuktikan bahwa tulisan kita memiliki kredibilitas, objektif, dan berdasarkan teori yang ada.
Tidak disarankan untuk memilih topik-topik yang sumber literaturnya masih sangat minim atau jarang dikaji oleh pakar lain. Mengambil topik yang tidak umum atau pelik dapat meningkatkan risiko terhentinya tulisan kita di tengah jalan. Tanpa referensi yang memadai, kita akan kesulitan untuk mengembangkan argumen dan menguatkan isi naskah secara objektif.
Namun sebaliknya, apabila kita memilih ide yang rujukannya mudah didapat, proses penyusunan naskah akan terasa jauh lebih ringan. Dengan banyaknya literatur pendukung, kita bisa mengembangkan dan memperdalam poin-poin penting dengan lebih terarah. Strategi ini sangat pas bagi teman-teman yang ingin menyelesaikan tulisan secara cepat tanpa harus terbelenggu dalam riset yang buntu.
5. Mengembangkan Ide dari Karya Penulis Lain
Cara kelima untuk mendapatkan inspirasi menulis yaitu dengan mengembangkan ide yang sudah pernah ditulis atau dipublikasikan oleh penulis lain. Hal ini sangat umum dalam dunia kepenulisan, asalkan kita mampu memberikan sentuhan individual atau sudut pandang yang berbeda. Kita dapat mengambil inti dari sebuah tulisan kemudian mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang lebih spesifik dan segar.
Contohnya, ada seorang penulis yang mengangkat tema tentang bagaimana cara menyusun kerangka karangana secara umum, kita bisa mempersempit fokus atau sasaran tulisan sesuai minat. Kita dapat menulis tentang tips menyusun kerangka karangan khusus untuk karya fiksi atau buku akademik. Dengan demikian, tulisan kita akan memiliki nilai tambah dan pembeda yang jelas dari karya sebelumnya.
Walaupun cara ini masih diizinkan, kita harus tetap menjunjung tinggi etika penulisan. Kita harus mampu memastikan bahwa tulisan kita tidak sama persis dengan sumber aslinya, sebab mencomot ide orang lain begitu saja tanpa proses pengembangan bisa dinilai sebagai plagiarisme. Intinya, ketika menyerap informasi, kita perlu mengubahnya menjadi hal yang baru dan unik dengan gaya bahasa sendiri.
Demikianlah, penjelasan mengenai apa saja cara atau strategi yang bisa kita lakukan untuk menemukan sekaligus menentukan ide tulisan. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman tidak hanya berhenti pada tahap mengetahui teori saja, namun juga berani memulai untuk mempraktikkannya secara langsung.
Bagi teman-teman yang sudah memiliki naskah dan ingin menerbitkannya menjadi sebuah buku yang ber-ISBN, penerbit Detak Pustaka siap membantu segala prosesnya. Dengan bantuan tim yang berpengalaman dan profesional, kalian bisa mempublikasikan karya dengan standar kualitas yang tinggi. Untuk informasi mengenai harga dan paket yang tersedia, silahkan kunjungi tautan berikut: Jasa Penerbitan Buku Tercepat, Berkualitas dan Profesional Tahun Ini.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·